METRO SUMSEL, PALI – Di sebuah sudut sunyi RT 23 RW 05, Kelurahan Pasar Bhayangkara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), waktu seolah berjalan begitu lambat bagi Mbah Aminudin. Di usianya yang telah menginjak 74 tahun, pria yang akrab disapa Lek Din ini harus menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur. Lima tahun sudah, kelumpuhan merenggut kemandiriannya, memenjarakan tubuh rentanya dalam sunyi.
Namun, secercah cahaya kebaikan akhirnya datang menghampiri gubuk tua miliknya pada Jumat (19/06/2026). Berawal dari laporan tulus warga yang tak tega melihat penderitaannya. Hati Sekretaris Camat (Sekcam) Talang Ubi, Hj. Ritawati Anwar, S.Th.I., M.Si., NL.P, langsung tergerak. Tanpa menunda waktu, ia langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi warganya yang luput dari perhatian tersebut.
Ketegaran di Tengah Keterbatasan Langkah kaki Sekcam Talang Ubi sore itu berujung di kediaman Mbah Aminudin. Di rumah sederhana itu, Lek Din tidak sendiri. Ia ditemani oleh istri tercintanya, Ibu Sumiati, yang dengan setia merawatnya di tengah keterbatasan usia dan ekonomi.
Saat pintu rumah terbuka, pemandangan memilukan langsung menyapa. Tubuh ringkih Mbah Aminudin yang tak lagi berdaya memicu rasa iba yang mendalam. Kehadiran sosok nomor dua di Kecamatan Talang Ubi ini seketika memecah keheningan rumah tersebut.
”Saat saya melihat langsung kondisi dan keadaan Mbah Aminudin ini, hati saya langsung bergetar. Ada rasa haru sekaligus tanggung jawab yang besar untuk memastikan beliau mendapatkan bantuan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap kondisi seperti ini,” ungkap Hj. Ritawati dengan nada suara yang bergetar menahan emosi.
Ketajaman Empati dan Gerakan Senyap para “Hamba Allah”
Ketulusan hati seorang pemimpin nyatanya mampu menggerakkan gunung kepedulian. Melalui inisiasi dan ketajaman empati yang bergerak cepat, bantuan dari berbagai pihak—yang memilih untuk tetap rahasia di balik nama “Hamba Allah”—mengalir deras untuk meringankan beban hidup Mbah Aminudin dan istrinya.
Berikut adalah rincian uluran tangan kasih yang berhasil dihimpun untuk Mbah Aminudin.
1 : Dari Hamba Allah (kab. Muara Enim ) memberikan 1 kursi roda dan uang sejumlah Rp: 1. 000. 000
2. Dari Hamba Allah uang tunai 300 ribu
3. Dari Hamba Allah uang tunai 250 ribu
4. Dari Hamba Allah uang tunai 150 ribu
5. Dari Hamba Allah uang tunai 300 ribu
6. Hamba Allah Memberikan 1 paket Sembako
Isak Tangis dan Harapan yang Kembali Tumbuh dan Suasana haru memuncak saat uang santunan diserahkan langsung ke tangan Ibu Sumiati. Air mata bahagia tidak membendung dari kelopak mata senja pasangan suami istri tersebut. Selama lima tahun, impian untuk sekadar melihat dunia luar atau duduk dengan nyaman di teras rumah bagi Mbah Aminudin terasa begitu mahal. Kini, impian itu terwujud.
Sambil menggenggam jemari sang Sekcam, Mbah Aminudin dan Ibu Sumiati berulang kali mengucap syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada para donatur yang entah siapa, namun telah mengirimkan mukjizat kecil ke rumah mereka.
Mis Rita, sapaan akrab Sekcam Talang Ubi berharap aksi sosial ini tidak berhenti sampai di sini. Ia berharap bantuan yang diberikan dapat memperpanjang asa dan memberikan kenyamanan bagi masa tua Mbah Aminudin.
”Kami berharap apa yang telah dititipkan oleh para donatur ini dapat memberikan manfaat yang besar, meringankan fisik Mbah Aminudin dengan kursi rodanya, dan menyambung dapur Ibu Sumiati. Terima kasih kepada orang-orang baik yang telah peduli. Semoga ini menjadi ladang pahala bagi kita semua,” tutup Mis Rita dengan penuh harapan.
Kisah Mbah Aminudin adalah pengingat tajam bagi kita semua, bahwa di sekitar kita masih banyak jiwa yang membutuhkan uluran tangan, dan kepedulian sekecil apa pun mampu mengembalikan senyum yang telah lama hilang.
Penulis : Rangga























