Palembang, – Dana 1 miliyar anggaran Operasional Pemeliharaan Sungai (OPS) yang dikucurkan setiap tahun oleh Kementerian Pusat untuk perawatan kebersihan sungai musi dari eceng gondok yang dikelolah oleh Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera ( BBWSS ) VIII diduga realisasinya tidak efektif dan tidak transparan, awak kapal milik Balai Besar Wilayah Sumatera Selatan (BBWSS) VIII yang ditugaskan jarang beroperasional, mereka beroperasional dalam satu bulan hanya dua atau tiga kali, padahal di setiap bulannya jatah BBM sudah di siapkan 4 Ton.
Hal ini terjadi dikarnakan tidak adanya controling atau pengawasan yang sering diabaikan dan tidak adanya evaluasi kerja dari Dinas terkait guna melihat sejauh mana kinerja yang sudah di capai, Salah satu bukti nyata masih banyaknya terdapat eceng gondok di atas perairan sungai musi.
Sangat disayangkan dana 1 M Pertahun yang di alokasikan oleh Pemerintah Pusat untuk perawatan kebersihan sungai musi ini sampai di salah gunakan oleh oknum pejabat pemerintah, diduga adanya indikasi penyelewengan dalam pengelolahan dana anggaran ini.
Berdasarkan keterangan HM saat di konfirmasi awak media ini di kediamannya mengatakan, Dana 1 M Pertahun dari Pemerintah Pusat itu diturunkan setiap bulan April, tapi dana ini belum bisa terealisasikan, dana ini baru terealisasikan pada bulan juni di setiap tahunnya.
” Dana tersebut di kelolah oleh BBWSS VIII sebagai PPK dalam proyek ini Yuli petugas PU Perairan Provinsi Sumsel, Beliau di tunjuk sebagai pelaksanaan pengerjaan pemeliharaan kebersihan sungai musi dari eceng gondok, tapi beliau jarang sekali meninjau kelapangan untuk melihat aktifitas awak kapal yang sudah ditugaskan” kata mantan awak kapal BBWSS VIII, selasa ( 11/ 06/ 2022 ).
Dia melanjutkan, armada kapal yang di siapkan untuk beroperasi di perairan sungai musi dalam pekerjaan itu adalah milik BBWSS VIII Provinsi Sumsel, di karnakan tidak adanya pengawasan yang serius dari Dinas PU Perairan Provinsi Sumsel maka mereka jarang beroperasi.
” Mereka beroperasi hanya dua atau tiga kali dalam sebulan, setiap bulannya awak kapal tersebut menerima 4 Ton BBM, yang menjadi bahan pertanyaan sekarang di kemanakan BBM BBM itu, padahal mereka jarang beroperasi, armada itu selalu tertambat di dekat pelabuhan PT. Nusantara Kecamatan Gandus” ucapnya.
HM menuturkan, kalau untuk armada angkutan darat sudah lama tidak di fungsikan lagi, berarti ini sudah jelas adanya oknum yang dengan sengaja menyelewengkan dana anggaran yang di keluarkan oleh Pemerintah Pusat.
” Kalau pada masa saya masih berkerja, selesai Tim PHO Pusat meninjau lokasi, saya setiap tahunnya selalu mendapat uang fee 6 juta dari PPK, tapi sekarang saya tanya dengan awak kapal tersebut, uang fee itu sudah tidak ada lagi” jelasnya.
Diajuga berharap semoga dengan adanya pemberitaan ini, Pemerintah Pusat atau unsur Dinas terkait lainnya yang ada di Provinsi Sumsel dapat mengaudit kembali penggunaan dana anggaran tahunan ini, Agar pengelolahan dana ini dapat semangkin jelas dan kebohongan dapat terungkap, karna anggaran ini adalah uang negara yang di kucurkan untuk dana Operasional Pemeliharaan Sungai.
Sementara itu AM saksi mata yang setiap hari berada di lokasi tertambatnya kapal tersebut membenarkan kalau kapal milik BBWSS VIII jarang sekali beroperasi, dalam satu bulan hanya dua atau tiga kali beroperasi.
” Awak kapalnya selesai absen di kantornya, kembali ke lokasi hanya duduk duduk saja dan terkadang sambil mancing, sementara eceng gondok masih banyak berhamburan di atas sungai musi” tungkasnya.
Pada saat awak media ini mendatangi kantor Dinas PU Perairan Provinsi Sumsel ingin bertemu dengan Yuli selaku PPK dalam proyek tersebut, dengan tujuan ingin konfirmasi terkait adanya temuan di lapangan. Tapi langkahnya menjadi terhenti di hadang Satpam Rizal selaku petugas keamanan kantor tersebut dan mengatakan ” Ibu yuli tidak ada di kantornya, Beliau sedang ada acara” tuturnya, hingga berita ini di turunkan.
Pewarta : Bang one
Editor : Yp 007































