
BANYUASIN, Metrosumsel.com – Warga Desa Salek Agung, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan dua hari terakhir dihebohkan dengan kabar bahwa adanya pemakaman salah seorang wanita berinisial RW (18), yang meninggal dunia dan dimakamkan dengan proktap Covid-19. Jumat (24/04/20) lalu.
Anggota DPRD Kabupaten Banyuasin Dapil IV (Air Salek, Muara Padang, Muara Sugihan, Makarti Jaya), Emi Sumirta berang atas data yang dikeluarkan gugus tugas banyuasin. Menurutnya data tersebut kurang valid dan tidak update.
“Beredar di medsos adanya salah seorang warga Desa Salek Agung kecamatan Air salek. Yang prosesi pemakamananya dilakukan secara protokol covid 19. Walaupun hasil swab hasilnya belum keluar secara resmi. Hal ini menimbulkan keresahan masyarakat setempat. Warga jadi khawatir akan penyebaran pendemi Covid-19 sudah sampai di paraiaran Banyuasin, kabar viral ini baru beredar di masyarakat dua hari belakang, padahal almarhumah sudah dimakamkan jumat (24/04/20) yang lalu,” kata Emi Sumirta, dihubungi via seluler pribadinya, Senin (27/04/20).
“Berdasarkan penelusuran saya pribadi jauh sebelum nya saya mendapat laporan dari salah seorang warga Salek Agung mengenai kedatangan almarhumah pulang dari telang dan dicurigai terinfeksi. Kemudian informasi tersebut kami sampaikan kepada pihak kecamatan, desa, dan puskesmas srikaton ketika saya bakti sosial di Srikaton. Kemudian kemaren kami terkejut mendapat informasi kembali dari warga yang sama bahwa almh telah meninggal dunia,” terang Emi Sumirta.

Dilanjutkan Emi,”Tak selang beberapa lama beredar di medsos melalui group WA bahwa almh dimakamkan secara protokol covid 19. Dan saya kembali membuka data update gugus tugas Kabupaten Banyuasin. Sangat disesalkan ternyata data yg di update gugus tugas tidak cukup memuaskan kami di kecamatan Air salek per 26April 2020, hanya terdata 1 orang yang tercata sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Kecamatan Air Salek. Itu pun selesai dari pemantauan,” tambah Emi
“Saya berharap gugus tugas covid 19 lebih serius dalam menangani pandemi ini. Tidak terjebak dengan seremonial dan slogan saja. Data yg akurat itu sangat penting. Karena dengan data kita bisa melakukan langkah-langkah pencegahan Covid 19. Apa kita tidak malu terhadap masyarakat dengan berbagai cara kita lakukan utk mematuhi himbauan pemerintah sedangkan pemerintah tidak memberikan data-data terupdate dalam menyampaikan informasi kepada masyarakt. Ini bukan urusan salah satu pihak ini urusan bersama karena urusan nyawa orang yang tidak mungkin kita gantikan dengan apapun. Berhenti seremonial dan retorika jauhkan kepentingan politik. Mari bersama kita bahu membahu mencegah penyebaran Covid 19,” jabar Ketua PW Pagar Nusa Sumatera Selatan ini.
Sementar itu dr. Beno Kepala Puskemas Srikaton membenarkan almarhumah merupakan warga Salek Agung dan sempat mendapat perawatan yang kemudian dirujuk ke rumah sakit.
“Hari kamis pasen datang dengan sesak ke puskes, langsung kami rujuk dengn diagnosis pneumoni+anemia. Sampai di Rumah Sakit didiagnosis pdp+anemia berat (dari hasil lab dan rotgen ada gambaran perselubungan di paru-ciri pneumoni–karena sedang pandemi di konsul ke dr. Zen ahmad..di bilang pdp+anemia berat,” terangnya via What appsnya.
Tim gugus tugas Covid-19 Banyuasin, Suprianto menyampaikan bahwa, setiap pasien meninggal dunia di Rumah Sakit dimakamkan dengan proktap Covid-19. Hal ini sebagai antisipasi penularan pendemi Covid-19, meskipun belum dipastikan pasien positif Corona.
“Jadi memang seluruh pasien yang meninggal dirumah sakit, maka penanganannya atau pemakamannya diberlakukan proktap Covid-19. Hal ini untuk menjaga-jaga saja, karena belum tentu pasien yang meninggal positif terinveksi Virus Corona. Namun protokolernya seperti itu. Nanti kita akan lihat hasil swebnya apakah pasien meninggal memang terinveksi Virus Corona atau tidak,” jelas Mas Pri, sapaan akrab saat dihubungi Metrosumsel.com via selulernya.
Laporan : Mohammad





























