Palembang, Metrosumsel.com — DPW Partai Kebangkitan Bangsa Provinsi Sumatera Selatan membedah pidato Peta Jalan Indonesia Maju awal tahun oleh ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar bersama sejumlah akademisi dan tokoh kebudayaan Sumatera Selatan.
Ketua DPW PKB Sumsel, Ramlan Holdan mengatakan, bedah pidato awal tahun merupakan salah satu cara menterjemahkan maksud dan tujuan ketua umum terhadap arah pembanguna dan kemajuan bangsa Indonesia kedepan.
“Melibatkan sejumlah akademisi, seperti pemerhati kebijakan public, pemerhati politik, pemerhati kebudayaan dan sejumlah masyarakat. DPW PKB Sumsel membedah pidato yang disampaikan ketua Gus Muhaimin. Hal ini dilakukan agar bersama-sama dapat menterjemahkan maksud dan tujuan yang disampaikan dari berbagai sudut pandang. Selain itu hal ini juga sarana menyampaikan kepada masyarakat luas akan keseriusan PKB dalam mendorong kemajuan Indonesia,” kata Ramlan Holda (09/01).
Dirinya berharap bedah pidato dapat menghasilkan masukan-masukan positif bagi PKB agar dapat terus menyerap dan menyuarakan aspirasi masyarakat dalam mendorong perubahan besar Indonesia di kemudian hari,” ungkap Ramlan Holdan.
Pemerhati kebijakan public Dr RM Thamrin menyampaikan pidato peta jalan Indonesai Maju menjadi penting seiring tekad Presiden Indonesia, Joko Widodo yang menjadikan Indonesia masuk lima besar dunia pada tahun 2045.
“Menarik ketua Umum memberikan resep-resepnya meberikan tiga cara, memberikan tiga tujuan, memberikan tiga pelajaran, meberikan sampai di aksi. Pertanyaan kenapa harus tiga dan dilakukan pada hari senin tanggal 3 ?. dan hal yang menarik sempat dirilis MRSC menyebutkan bahwa PKB menduduki posisi ketiga besar,” ungkap Dosen Universitas Sriwijaya ini.
“Saya dapat sampaikan bahwa Ketua Umum PKB piawai sekali memainkan perannya, beliau sadar PKB adalah partai pendukung pemerintah, sehingga dapat memainkan jurusnya dengan baik, bagaimana memberikan keritik tanpa harus menyalahkan rezim ini, menariknya ketua umum PKB ini menjadikan kritikan sebagai batu pijakan untuk memberikan masukan,” pungkas.
Sementara itu pemerhati politik, Bagindo Togar mengutarakan social politik disampaikan Ketua Umum PKB, hal ini menunjukan bahwa PKB itu peka terhadap perkembangan politik saat ini, saat masyarakat belum mempersiapkan memasuki tahapan politik, PKB telah melakukan prepare.
“Saat masuk gelanggang PKB menyiapkan segala sesuatunya, termasuk amunisinya, tantangannya kemudian peluang-peluang yang dapat diraih. Apa pun PKB secara Cultural PKB basisnya NU. Hal yang dilakukan PKB belum dilakukan partai-partai lainnya. Saya berharap diskusi ini tidak hanya berhenti dalam ruangan saja. Namun dapat menyentuh masyarakat secara luas,” ungkap Bagindo.
“Tidak alasan untuk menghentikan dalam ruangan saja, karena PKB memiliki instrument sampai tingkat desa yang dapat melibatkan media untuk membantu menyebarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Apa lagi saya melihat PKB ada logo lebah memiliki filosofi pertama sebagai obat dan kedua dapat menyengat,” guyon Bagindo.
Laporan : Maulana




























