.
.

metrosumsel.com

.

Ketua Garda Api, Yan Hariranto Kritik Sistem Pendidikan Indonesia Meluntur


Spread the love

Ketua Garda Api Sumsel, Yan Hariranto

Palembang, Metrosumsel.com — Ketua Garda Api Sumatera Selatan, Yan Hariranto mengkritisi perkembangan dunia pendidikan masa kini. Catatan ini diberikan terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei.

“Kritik dalam dunia pendidikan Indonesia terletak pada kurangnya disiplin, melunturnya budaya prestasi, kecenderungan menempuh jalan pintas, serta kurangnya militansi untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Yan Hariranto, Kamis (02/05).

Sekolah sebagai tempat pendidikan harus menjadi tempat persemaian akal sehat dan budi pekerti, bukan justru jadi tempat persemaian perilaku intoleransi.

“Sekolah harus membuka ruang seluas-luasnya bagi kultur berprestasi. Sekolah harus membuka kesadaran untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Yan.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini pun, lanjut dia, harus menjadi momentum otokritik terhadap pelaksanaan pendidikan agar semakin mengedepankan nalar dan akal sehat, disiplin, budaya kejar prestasi, dan semangat cinta pada Tanah Air.

“Ki Hadjar Dewantara meletakkan pendidikan nilai, bertumpu pada watak dan karakter yang sesuai kepribadian bangsa, yakni Pancasila,” pungkasnya.

Terkait aksi tuntutan sejumlah aktivis kepada Gubernur Sumsel Herman Deru, Yan Hariranto mengatakan, bahwa pemerintah pusat maupun Pemprov Sumsel telah melakukan berbagai upaya mempermudah pelajar maupun mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan di Sumsel.

“Misalnya, dengan mengeluarkan kebijakan diskon penggunaan LRT maupun jalan tol. Begitu juga soal masalah kekurangan guru menurutnya, perlu diketahui saat ini pemerintah sudah melakukan pengangkatan secara bertahap. Hanya saja memang diakuinya, jumlah guru yang pensiun lebih banyak dari yang diangkat. Dulukan ada pengangkatan guru besar-besaran. Nah mereka ini sekarang semuanya masuk pensiun, sementara penggantinya diangkat secara bertahap,” jelasnya.

“Sementara itu, terkait pendidikan gratis di Sumsel juga berlaku untuk 437 SMA/SMK yang ada kecuali 27 sekolah dengan pelayanan plus. Namun, meski berbayar tetap saja sekolah plus tersebut harus mengalokasikan kursi beberapa persen, untuk siswa yang tidak mampu untuk bersekolah gratis,” tambah aktivisi ini.

“Pendidikan adalah hal dan hak mendasar yang wajib diperhatikan negara. Karena, salah satu aspek penting dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah, memastikan pendidikan bisa diakses oleh seluruh rakyat tanpa terkecuali. Tidak boleh seorang pun warga negara tercegat haknya, menikmati pendidikan tinggi karena faktor biaya. Namun rupanya ini cuma mimpi yang tak berkesudahan karena pada kenyataannya sampai saat ini negara kita belum sanggup mewujudkannya,” tutup Yan yang akrab disapa Yan Coga ini.

Laporan : Muhammad Maulana

Editor : reza


Spread the love

Reviews

  • Total Score 0%
User rating: 0.00% ( 0
votes )



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *